RSS

Pindahan Tulisan Bahasa Indonesia

Dear pembaca, untuk kedepannya tulisan dalam bahasa Indonesia di blog ini bakalan aku pindahkan ke blog aku yang lain "Nona Backpacker" biar gak bingung bacanya.. thanks!


Visa Rusia Yang Gemesin!

Ibarat pacar yang cakep tapi judes, gitulah gue ngebayangin ngurusin visa Rusia. Pengen bejek2 tapi butuh.


Tahun 2012 gue sempat belajar bahasa Rusia di PKR Jl. imambonjol Jakarta. Lumayan lah u ntuk basic sekalian baca tulis cyrillic yang ajaib itu. Namun apadaya berhubung kantor jauh dengan PKR pupus lah kursus gue sampe level 2 doang. Itupun dah bangga banget bisa baca cyrillic ibarat bisa baca puzzle yang orang gak tau artinya apa.

Waktu kursus, sering dengar gimana gampangnya dapat visa Rusia, yang penting di visa supportnya, kata orang2 jaman dulu. Gue sih yang dengar iseng2 cuma itu doang yang nempel di kepala sebab again, sama kek ke Eropa, gue gak kebayang bakalan nginjakin kaki di negara beruang merah ini.

Setelah dapet Visa USA tadinya akukhawatir bakalan pengaruh ke pengajuan visa Russia tapi ternyata ngga juga.

Tiap negara juga beda2 untuk persyaratan visanya,termasuk Russia. So far aku bakalan bilang ini visa yang paling gampang2 susah yang pernah aku dapatin.

Gue dapat informasi yang simpang siur dari grup traveling di facebook, sampe nanya2 sama guru bahasa Rusia gue (yang ikutan bingung kenapa riweh amat siiihh) akhirnya aku ke kedutaan Russia dan menanyakan sendiri secara jelas soal syarat untuk pengajuan visa Rusia.

Untuk syarat jelasnya bisa dilihat di website kedutaan besar Russia di sini secara singkat syarat utamanya;
  1. Mengisi  formulir visa secara online di website visa.kdmid.ru Note: formulir standarduntuk backpground check yang  menanyakan soal history traveling, tujuan, dan detail pekerjaan kita. Formulir di print, di tanda tangani dan satu foto di tempel di sana.
  1. Passport asli dan fotocopyannya Note: passport harus belum expired kurang dari 6 bulan
  1. 2 photo, size 3 x 4, color, white background. Note: Pada kenyataan yang di pake Cuma satu.
  1. Confirmation letter/Visa Support dari hotel atau travel agent yang authorized Note: Ini bagianpaling tricky. Harus di ingat, semua hotel yang ada dalam surat confirmation ini harus sudah fully booked alias di bayar penuh di depan, dan harus adabukti pembayaran resmi dari hotel tersebut berupa kwitansi/tanda terima/invoice. Jadi sebelum pesan visa support ini, make surehotel/hostel kamubisa provide kwitansi/invoice tadi dan bisa dikirimkan via email sebab ngga semuahotel/hostel mau menyediakan bukti bayar tadi. Selain buktipembayaran tadi dari hostel potongan kartu kredit/statement kartu kredit juga harus di lampirkan juga (inilah info yang aku dapatkan langsung). Sudah dapat semua bukti pembayaran, baru tahap berikutnya kamu bisa  pesan visa support ini. Dan juga bukti pembayaran visa support harus di lampirkan. Website yang aku pakai? https://bronevik.com/ memang sedikit lebih mahal dari website lain yang umumnya di pakai orang Indonesia. Tapi selisih Rp 50. 000,- tapi worthy dengan pelayanan dia yang cepat just in case kalau misalnya ada masalah.
  1. Ticket (airlines/train/bus) in and out of Russia; Note: Tiket di print out dan harus sudah terbayar penuh/bukan cuma confirmed tapi juga "issued". 
Intinya Cuma itu aja.

Ribetnya di mana? Jawabannya ada di syarat2 pendukung yang ngga ada di dalam website. Ini baru ada “desas-desusnya” dari bulan Maret 2017 kemarin yang di sebarkan sesame traveler dari Indonesia. Ada yang mesti tambah dokumen inilah—dokumen itulah. Malah ada ibu2 yang aku ketemu di kedutaan di minta uang tabungan Rp 100juta {katanya!) sebab isi statusnya sebagai ibu rumah tangga (berangkat bareng suaminya yang udah ada visa Rusia duluan) jadi bikin jantuung nge drop ke lantai (dramatis).

Untuk yang hobi traveling secara fluid kek gue, yang ngga mau ikut itineraries, ini kek mati gaya hahahah kita harus benar2 sesuai dengan jadwal yang kita sudah ajukan melalui visa support tadi. Dan yang bikin kepala pusing adalah nanya ke hostel yang kadang jawabannya lamaaa banget (time difference) plus ngga nyambung gara-gara kendala Bahasa.

Disinilah bedanya dengan visa Schengen atau visa USA.

Untuk visa Rusia akomodasi harus fix. Dibayar penuh di muka. Sedangkan untuk visa Schengen ngga perlu di bayar cukup lampirkan saja print out dari bookingdotcom sudah cukup. Tiket pesawat PP pun Cuma dummy tiket yang ngga ada di bayar apa2nya. Inilah bedanya dengan visa Russia.
Website/aplikasi yang aku pakai untuk menghindari bayaran DP doang/untuk pembayaran penuh:
  • Hotels.com
  • Hostelbookers.com
  • Ostrovok (website rusia)

Website lain juga bisa kek agoda, tapi fee nyakelewat gede jadi kadang harganya lebih mahal dari website lain. Ini pilihan sih. Sesuai tema, kita kan backpacker yang lebih ngutamain harga yang ekonomis.

Kalaupun mau tetap pakai booking.com perhatikan pembayarannya. Kalau misalnya Cuma bisa bayar DP aja artinya pilih hotel/hostel lain deh. Atau kalau bener2 ngebet dengan akomodasi tersebut tinggal hubungi, bisa atau ngga untuk full payment di depan, dan apakah bisa mengirimkan bukti bayar penuh via mail.

Untuk mengontak semua akomodasi ini percaya atau ngga, kita ngabisin full 2 minggu, back and forward. Syukurya website kek booking.com sama hostel.com cukup cooperative dan mereka membantu untuk menghubungi akomodasi yang kita mau tersebut.

Jadi ada bagusnya untuk mulai proses pembuatan visa ini 3 bulan dari sebelum berangkat. Horor banget kalau di buru2.

Selain dokumen di atas aku juga nyiapin dokumen pendukung lain (yang di pisah tentunya) just in case dan ngga di masukkan kedalam dokumen, tapi kalua di minta tersedia.
  1. Asuransi global/worldwide coverage dari ACA (lebih kepada faktor kebiasaan)
  2. Detailed travel itineraries kita (juga kebiasaan udah di siapin)
  3. Boookingan tiket kereta dan pesawat selama disana

Saat mengajukan, kita datang ke kedutaan jam 7.30 pagi dan dapat urutan nomor 5. Ternyata nomor antrian di gabung dengan travel agent yang sudah pada ngantri dari sebelum jam 7 pagi!

Jangan lupa be presentable lah ya… namanya juga mau apply masuk kerumah orang, jangan kek gembelita lah pake tuh mascara cetar baday sama eye liner agak naikin dikit, lipsticknya yang cerah jangan kek niatan mo jadi gembel beneran di negara orang, taylor made a man kata bokap gue dan selalu gue pegang.

Proses masuk ke dalam kedutaan ngga seribet kedutaan lain. Ada locker yang di sediakan untuk menyimpan tas dan HP di larang di bawa masuk. Nomor antrian dari luar akan di tukarkan dengan nomor antrian di dalam, siapkan KTP juga untuk di titipkan ke pak security. Untuk bapak securitynya ramah kok, sama ada satu om2 yang hobi banget bolak balik dari depan pintu masuk ke bagiian dalam. Memang keliatan serem, tapi coba senyum deh, dia senyum balik kok, ramah juga orangnya ^,^ paling gak sama gue ramah lah ya hahahaha…

Untuk yang perginya berengan cukup ambil satu nomor aja. Oh ya, pengajuan visa ini bisa di wakilkan loh. Jadi ngga perlu datang segambrengan. Duduk dan tinggal nunggu di panggil aja.

Mbak Rina, admin yang mejanya ada di pojokan setelah pemeriksaan security yang terima dokumen kita, begitu liat susunan dokumen kita, dia senyum bilang; rapi banget mbak (sumringah dong gue) hahahah “udah sering ngurus sendiri mbak” kita jawab gitu aja. Bagus deh mudah2an lancar. Dia Cuma cek di visa invitation dan seperti info yang kita dengar juga ada beberapa visa invitation yang memang di palsuin. Tapi untuk dari website kita lumayan kredibel (yukkk tariiikkk). Ingaaaa buat apa beli murah kalua depannya beribet.

Berhubung summer jadi memang rame banget. Dan menurut mbak Rina juga tahun ini (2017) terjadi kelonjakan aplikasi visa mulai dari Januari, dan puncaknya di mulai Mei—waktu summer di mulai. Again, ini saat2 ngurus visa secepatnya sebab memang rame banget. (ngga serame visa USA atau Schengen sih.. tetepp.. hahah)

Sudah dokumen di periksa, bayar sejumlah USD 70. Lebih baik siapkan uang USD sebab untuk bayar dalam rupiah kursnya kalua ngga salah di jadikan Rp 14.000/USD nya. Sudah bayar tinggal tunggu kwitansi. Passport kita bisa di ambil 20 hari kemudian.

Oh ya biaya visa sebagai berikut detailnya:

VISA PROCESSING FEES FOR INDONESIAN CITIZENS
 
Standard
Process 4 till 20 days
Express
Process 1 till 3 days

SINGLE ENTRY
(tourist; business; working; transit)


$70, - USD
    $ 140,- USD

DOUBLE ENTRY
(tourist; business; transit)

   $ 112,- USD
   $ 224,- USD
MULTIPLE ENTRY
(business)

  $210,- USD

  $420,- USD

Visa for student
(single entry)

 $70,-USD
   $140,-USD
For a tourist group normal processing is minimum 14 – 20 working days, express - one week.


Di kwitansi nanti di tulis tanggal pengambilan passport. Sebenarnya sih kalua kwitansi ini udah keluar ya sudah tenang ya, visa 80% artinya udah di tangan hahahha.

Ini beda lainnya di bandingkan dengan kedutaan lain. Kedutaan Rusia ngga bakalan mau terima uang pembayaran sebelum yakin dokumen yang kita submit lengkap semua. Baru mereka keluarkan kwitansi. Jadi bisa di bilang uang gak bakalan angus kek kasus apply visa di kedutaan lain.

Selama masa tunggu banyak2 doa aja mudah2an semua dokumen terferifikasi dengan baik, jadi ngga perlu mondar mandir ke kedutaan.

Udah gitu aja sih, ngga ribet asal lu tau apa yang mesti di kerjain. Jangan terlalu dengar banyak info “katanya” datangin langsung kedutaan kalua perlu. Mereka ramah kok.


Good luck buat yang  mau coba!

Untuk detail trip ini yang lain (akomodasi & transport) aku posting lain waktu.
Aku juga baru mau start IG untuk trip ini di: indoflyingfox mudah2an bisa upload semua foto2 selama perjalanan di sana :)


#visarussia
#visarusia
#pengajuanvisarusia
#moscow
#St.Petersburg

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lets wonder wheres the wifi is weak!

"Lets wonder wheres the wifi is weak...."


Tulisan ini, aku buat sebab rada jengah ngeliat banyak pertanyaan seputar "kartu simcard lokal", sewa wifi (kekya desperate banget), sama pengalaman aku yang di stereo type soal traveller Asia yang tingkat narsisnya mengkhawatirkan. Kok ribet banget ya mau backpacking hari gini?

Alasan paling tinggi buat beli simcard local sama jadi fakir wifi;

  1. Biar bisa kontak keluarga
  2. Kontak kantor
  3. Biar bisa upload foto dan update status di Facebook, instagram, dll biar kekinian
  4. (?)

Tapi yang iya alasan nomor 3 yang paling jujur deep down inside (please dont lie to your self at least).

Reason yang pertama okelah, memang harus kasih informasi kekeluarga kalau kita udah landing safely, aman2 makan cukup, tempat tinggal ok.

Untuk yang ke 2 rasa2 ngga masuk. Aku sama kak Mari dulu juga pernah ngebahas soal ini. Dan kami sepakat kalau cuma sekedar kirim sms ke keluarga ngga masalah pakai nomor Indonesia aja toh mereka sudah tau kita traveling. Begitu juga dengan kantor--izin cuti sudah di approved, email kantor udah di kasih notifikasi "away" trus yang biayain liburan juga bukan kantor jadi kita ngga perlu lapor sama bos kegiatan tiap hari---kecuali kalo lu yang punya kantor ya ahahaha.... alias buat monitor apa aja kerja nak buah lu (punya kantor tapi ala2 backpacker kere ngapain boss?)

Sejak 2007 pertama kali backpacking keluar negri, gak kebayang berapa banyak jumlah foto yang sudah aku buat. Aku ngga punya hapeeehhh yang kek sekarang. Masih HP Sony Erricksson P1 itu dah yahuud banged. Kameranya kodak poket yang 8mp. Tiap balik ke hostel, nongrongin PC yang ada di communa room, ganti2an dengan traveler lain. Pake kabel data upload ke mana coba? dulu gue belum punya FB ahahah apalagi soscmed lain. Letakinnya di YAHOO BRIEFCASE (yang sekarang udah gak ada lagi).

For me from very beginning; "Traveling is not only about arriving, but enjoying it"

Di trip 2009 antara Singapore-KL-Thailand ada ekitar 350an foto. Maklu masih pakai kamera kodak yang memorinya di bawah 1giga (256mb udah ok). Waktu itupun hp masih sekedar untuk telepon dan sms. Sedangkan kamera masih di vga atau di bawah 3 megapiksel ngga secanggih sekarang.

2011 traveling solo ke Eropa pertama kali. Modal cuma bawa tripod kecil ukuran 30cm, sama kamera kodak yang udah lumayan uzur tadi (cuma kisaran 8 mega piksel kok), sama netbook Toshiba buat nyimpan foto2 tiap hari. Ambil foto seadanya.. lebih banyak buat nandain jalan biar kalo nyasar bisa di telusuri balik.

Tahun 2015 nge trip ke Eropa, backpacking berdua Kak Mari, Start dari Amsterdam (Sciedam, rotterdam, Den Hague)-Paris-Switzerland-Inssbruck Austria-Budapest Hungaria-Roma-Pisa-Milan. Julah foto dari HP (yupp aku nggga pernah mau ribet bawa2 gadget kebanyakan) sekitar 900an foto termasuk selfie yang acakadut atau blur.

Not to judge badly gue ngga abis pikir liat "backpacker" Asia atau traveler yang bawa dslr di leher, plus 2 HP yang ngga berenti foto2. You truly missing things out man! belum lagi bahaya copet dan jambretnya. Esensi backpacking, carry less, lu bisa gerat lebih leluasa, jalan kemana aja tanpa kerepotan bawa tuh barang, ketakutan di copet, naik turun bus, tram, kereta tanpa takut tuh barang2 kececeran.

“He who would travel happily must travel light.” – Antoine de St. Exupery

Gue udah liat di banyak tempat ketika mereka sibuk dengan semua gadget ini mereka miss essence di duatu tempat. Duduk, diam, nikmati... contoh di Eiffel tower... jangan cuma di liat Eiffelnya, suasananya, how the air feels, gimana dinginnya suhu 12c mana gerimis, langit abu2... tapi kalau gue tutup mata gue sekarang gue bakalan ingat semua.

Take your time, sit in silence. Gunakan semua panca indera---itu yang gue sebut "memory".

Iya ini tergantung dengan travel style. Untuk gue sayang banget kalo di sibukkan dengan seua gadget tapi ngga bisa nyerap suasana di sana.

Memang sih semua pada bilang, sayang kalau ngga ada foto2 di sana... iya.. gue juga hobi di foto, siapa yang ngga. Tapi somehow deep inside kalau kamu percaya, kamu pasti bakalan balik lagi kesana, you got to believe it!

Ngga masalah mau foto, cuma kala per berapa menit udah foto aja alias excessively, you got to ask why you travel, what for?

Naaahhh lepas dari masalah foto2 ini berlanjut ke masalah telekomunikasi.

2007, ke South East Asia aku ngga pernah beli simcard lokal. Waktu itu bawa kartu Indosat sama Telkomsel dengan roaming DIMATIKAN. Yupp.. tuh HP cuma case emergency aja. Ingat HP jaman dulu cuma buat sms dan telepon aja.

Setiap hari aku kirim satu sms ke adek, just so she knows im ok.

Keluar dari hostel, pakai peta yang masih kertas, telusuri Singapore sendiri. Takut nyasar? ya namanya traveling pasti nyasar. Ngga ada namannya traveling ngga nyasar. Mau di Singapore atau bahkan di Jakarta sendiri... masa belum pernah nyasar di Jakarta?? hahaha... sampe sekarang pun kalo aku di turunin di Jakarta Barat bingung dah gue dimana.

Banyak tempat2 yang aku notice sampai hari ini ngga gitu di eksplor sama backpacker yang datang ke Singapore. Pernah dengar Betel Box? sudah pernah ke water reservoir Singapore? udah pernah jalan ke Jurong? bukan bird park nya aja...beneran wanderless jalan2 aja. Chinatown udah kemana aja? tau ngga d sana ada toko dessert enaaakkk banget. Little Inda udah ke tiap lorongnya? tau daerah Geylang? yang dibilang red distric itu... tau ngga ada majid gede di sana? makanan Malaysia/halal paling banyak di sana loh... tau ngga dari hotel Fulerton itu undergroundnya ada passage ke Merlion? lumayan masuk dan gak panas2an langsung tembus ke Merlion.

Put down your phone... see around you, you will see more!!

Aku ngga nyangkal sering jadi "fakir wifi" apalgi waktu trip Eropa 2015 kemaren. Tapi nngga bikin sampe kek mana gitu ya.... kalo ketemu ya syukur, ngga ya sudah. Kita sepakat toh di masing2 host airbnb kita punya wifi (kita tanya dulu dong sebelum datng). Jadi kalau mau update status atau mo upload foto ya tunggu sampe di penginapan. Kalaupun ada kita dapat wifi biasanya kalo numpang pipis di restoran kek McD **fakir banget** atau tiba2 nemu free wifi di taman (girangnya naujubilah dan batre langsung drop gara2 semua notifikasi masuk sekaligus!) namanya juga backpacker ya pelita hati sama duit ahahah.

Aku traveling buat diri sendiri... susah loh ngumpulin duit, planning traveling berminggu2 bahkan berbulan2, tapi yang di pandang nanti cuma screen hp sepanjang jalan... jadi ya aku ngga ngerasa ada kewajiban buat posting foto tiap 1 menit dan update status tiap 2 menit. Just think about it.

Wifi pun wakttu ke Eropa lebih kepada peta, nge download offline map, google soal interesting place selain yang sudah kita jadwalkan. Untuk peta kita ngandalin Ulmon sama google offline yang bisa nyala tanpa paket data cuma ngandelin GPS dari HP.

You could do it... lepaskan diri dari ketergantungan HP foto2 sewajarnya aja (bukan selfi pose 30 kali di tempat yang sama). Enjoy your trip! its kind of sad loh... apalagi kalau yang backpacking nya ber dua dan sama2 mukanya di HP melulu. Ini yang di celetuk sama temen2 aku yang dari Eropa.

Aku pernah makan di restoran di Jerman, jadi temen aku nunjuk ke meja lain, ada keluarga asia 6 orang. Food on the table, its dinner. Tapi satupun ngga ada yang ngobrol semuanya pada fokus sama gadget masing2 termasuk orang tuanya dan keseluruh anaknya termasuk  toddler. Makan pun di suap ngga liat piring tapi fokus ke monitor. Temen aku nyeletuk "typical asian" dan menurut dia itu ngga sopan sama sekali di Eropa kalau di keluarga makan tapi pegang hp sepanjang makan. Gue cuma bisa nyengir doang. Mo jawab apa? memang rata2 sepanjang perjalan itulah yang gue liat.

So, tulisan ini sekedar uneg2----kemungkinan besar ada yang kurang sependapat, but hey... aku cuma mau kalian enjoy dengan trip kalian without missing things...

Rekor terlama kita tanpa beli2 simcard atau wifi adalah 3 minggu! kira2 kalau traveler sekarang ada yang bisa lebih dari itu ngga yaaa?? ada yang bisa lebih dari 1 bulan mungkin?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Applying for US Visiting Visa-----say a little pray for me!

Balada orang lapangan kalau ngurus gini, presisi alias ketepatan dan organizingnya mesti bagus (tsaaahhh). Sebab salah hitung jadwal off trus buat jadwal interview ngga jatuh di jadwal off… hufffttt kelar dah… rempong pisan buat reschedule lagi.

Dari hasil semedi dan terawangan, aku pilih hari Jumat ajalah pagi (nunda banget padahal gue dah off dari hari sabtu minggu  kemarennya ahahah). Kederrr... mempelajari situasi whats the best option buat ke sana... baca2 lagi tuh DS-160 ibarat rasa2 mau ikut UAN waktu SMA atau kek mau ujian skripsi. Mikir tuh duit 2.1juta ROIB kalo ngga approve (haisssshh)

Hari Jum’at pagi jam 6 aku sudah siap di atas motor gojek balapan sama yang mau pergi kerja. Tujuan langsung ke arah Monas dekat stasiun kereta Gambir. Kedutaan Besar Amerika Serikat ada di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 3-5, Gambir.

Berhubung orang lapangan gue yang ada cuma jeans jadi maafkan lah ya. Pagi ini ke kedutaan gue pake Jeans sama kemeja plus sepatu sport. Dandan juga ngga cetar benget, biasa aja. Rambut di kuncir sebelah aja biar rada rapi, apalagi kalo naik motor.

Sampai di depan pintu kedutaan, agak tricky juga kalau mau berenti sebab ada barikade jadi ngga bisa turun ke pinggir. Jadi terpaksa minta berenti di Ujung pagar kedutaan, ngga apalah jalan sedikit daripada gue di teriakin sama penjagaan kedutaan yang mukanya lumayan sangar dari jauh.
Note ya, ngga ada tempat parker dan berhenti mobil/motor jadi memang lebih baik pakai angkutan umum dan kalau sama mobil pribadi ya di parkirin paling di stasiun gambir trus jalan kaki deh.

Kalau di persyaratan yang kita print out ada tulisan JANGAN DATANG SEBELUM PUKUL 6.30 untuk grup A yang interview jam 7, yang ada?? Gue datang waktu itu jam 6.20 pagi, udah ada 7 orang di depan gue. Udah deh ikut ngantri. Gue mikirnnya its ok lah masih 7 orang ini. Inget dulu waktu kedutaan Jerman juga ngga lama ata---sama dengan kedutaan Belanda kagak ada antriannya ahahaha (yang di Surabaya inihhh).

Di luar pagar, bapak security liat passport sama interview appointment kita. Yang boleh  masuk cuma yang mau apply yaaa… kecuali kalau anda masih termasuk anak2 atau golongan lansia atau memang butuh special assistant. Ngga adahhh namanya di temenin sama papah, mamih, baby sitter, pacar, tunangan pak RT, atau tetangga sebelah. Lu mau ke negara lain aja masih pake di temenin (ya eyalah bukk ke toilet aja masih minta temenin hahahahah please deh!).

hadeeuuhhh…. Sendiri lah ya pokoknya yang mau apply aja (dan ada adegan “udah2 mamah tunggu di sanah ajah…” si anak perempuan umur 20an (!!!!) misuh2 memble, keingat gue pon akan di antar ke play group pertama kali haiyyyoohh).

Nunggu sekitar 15 menitan berdiri, kita akhirnya diperbolehkan masuk. Semua barang bawaan di scan dan kita juga melewati metal detector. Kunci mobil yang pake remote, hp, ipod pokoknya elektronik semua harus di titipkan bahkan gelang fitbit gue juga ngga boleh di bawa. Tas di perbolehkan masuk, hanya elektroniknya aja yang di tinggal termasuk flashdisk ngga boleh masuk yaaa.

Oh ya makanan sama minum juga semua ngga bisa masuk. Tenang di dalam ada kok dispenser air boleh minum cuma2. Juga ada kios kecil punya ranch market yang jualan sandwich sama minum. Ada juga kios roti gitu. Jadi kalau mau cemal cemil bisalah di ganjal sama nih makanan.

Dari pemeriksaan security kita dikasih nomor locker.

Keluar dari ruangan lanjut ke ruangan berikutnya di sambut sama 2 mbak2 yang ramah. Mereka mengecek dokumen kita lagi sambal mengarahkan untuk mengambil nomor antrian di mesin. Untuk nomor antrian ada 2 print out. Print yang pertama untuk antrian di ruangan tersebut. Ini ngga bisa di sebut ruangan sih sebab terbuka kek garasi gitu dan ada kursi panjang kek rumahsakit banyak

Ada beberapa loket/booth di sana.

Ternyataaaaa……. Aku datang 6.20 pagi bukan nomor 7 cuyyyy aku adalah “pasien” nomor 51 sodara2. Jadi saran aku abaikan sajalah perintah untuk tidak datang sebelum jam 6.30 pagi tadi yaaa…. Ini orang2 pada ngantri jam berapa cobaaaa….

Di loket itu nomor antrian tadi salah saunya di kasih dan di tanyain beberapa hal; Tujuan mau ke amerika? Berapa lama? pergi dengan siapa? di tanyain soal surat DS160 sama passport. Kebetulan aku ada bawa passport aku yang lama. Jadi yaaa di kasihlah dengan si mbak. Mbak yang disini orang Indonesia. Jadi ini kek “pre interview”.

Sudah kasih passport sama ngobrol dengan mbak tadi, di persilahkan untuk duduk lagi masih di ruangan yang sama. Ternyata dari sini di panggil ke ruangan lain per 10 orang.

Dari ruangan ini nomor aku di panggil per 10 orang di suruh pindah keruangan dalam. Di ruangan dalam ini antri lagi ada layarnya. Ntar kalau nomornya di panggil, di ambil sidik jarinya. Daaaannn pindah lagi tempat duduknya ke area tunggu interview.

JREEENGGGGG JREEENGGG.

Muka Tegang semua… tenang…. Ada yang komat kamit…. Dan gue mendadak berasa merinding hahahah…..

Disini ada 4 loket. Yang paling Ujung cowok afroamerika, 3 loket lainnya cewek bule semua. Mereka interview campur pakai Bahasa Indonesia dan inggris.

Aku dengar2 ada yang interview buat visa training di tanya detail banget gilaaaakk….. dan ada juga cewek yang kerjanya katanya engineering juga sama di tanya detail. Dari sekian orang ada banyak yang di kasih kertas pink ada banyak juga yang kertas putih.

Untuk pertanyaan interview sebenarnya variatif tergantung dari pertanyaan sebelumnya. Antaralain yang gue dengar:
  1.  Tujuan datang ke Amerika?
  2.  Mau ke mana tujuannya di Amerika?
  3.  Berapa lama?
  4.  Kerja di mana? Sudah berapa lama? Apa job desk kamu? Perusahaan di bidang apa?
  5.  (kalau jawab mau ada seminar/training) tunjukkan undangan seminar/training, surat pengantar dari kantor? Pendidikan terakhir apa? apa yang di harapkan dari seminar/training ini?
  6. Ada kenalan atau keluarga di amerika? Dimana tinggalnya? Hubungannya apa? (di minta kk) saudara sudah berapa lama di US?


Aku udah itung2 itu jendela, iseng, antisipasi grogi… keknya aku sama mbak bule yang jendela paling pinggir. Sebelum aku ada dua orang cewek pake jilbab. Mereka keliatannya senang banget waktu selesai di interview, keknya mereka berdua visanya di approve.

How I feel?? Berasa mo koprol jungkir balik gegara nervous.

Ok giliran gue. Tuhan... ill be a very good girl if you approve this one.

Senyum dan sapa si bule duluan dengan “Good Morning, how are you doing?” dia jawab dengan senyuman.

Langsung gue tegang dan nervous cubit2 tangan hahaha.

“Apa tujuan anda datang ke Amerika?”
For holidays (ya gue jawab Bahasa inggris) si mbak lirik gue dan senyum

“Where do you plan to visit?”
I am planning to go to NYC and the cities around it. I only got less than 2 weeks for holidays, too bad but I can’t see all at once I guess.

“oh yeah, you will love New York, so much to see there and also, go to DC!”
Well, I do plan that as well, it’s not that far from NYC (cubit2 tangan sendiri ngga mau kelewat banyak omong hahaha)

“What do you do for living?”
Gue jelasin dalam Bahasa inggris perusahaan sekalian job desk gue. (si mbak nyimak gue jelasin sambal sesekali liat monitor computer dia—mungkin nyocokin sama isi DS-160 gue)

“So, you’ve been to Europe before?”
Yes, I went there for backpacking several times, you also never got enough of Europe I guess.

Dia ketawa “oh yeah, Amsterdam is nice”
Yes, I love the city except the winter!

Trus dia senyum dan langsung diam liat monitor dan dokumen. Gue dah mo nangis kejer gara2 nervous.

“Your visa is approved, welcome to New York!”
Gue kedip2.

Uhhmm that’s it?? Gue tanya dia balik.

Dia ketawa, “Yes… enjoy your trip!”

Gue megap2 woaaahh thank you so very much! Gue rasa2 mo meluk tuh bule kalo ngga ada kaca (bisa nempel ibarat ikan sapu2 atau ikan cupang gue ntar).

Tangan kaki gue kebas mendadak kek jelly. Efek, adrenalin yang keluar mulai turun.

Hahahahah! Satupun dokumen yang udah gue susun rapi dalam map di tangan gue ngga di tanyakan. Mulai dari copy rek koran, surat kanttor, tiket dummy, booking dummy, ntah hapah2 lah di dalam map gue ngga ada satupun yang keluar.

Dia kemudian nyerahin satu lembar kertas dan jelaskan kalau passport aku normalnya sudah akan di terima dalam waktu maksimal 3 hari kerja.

Aku masih bengong.

Jalan keluar ruangan ringan kaki sama kepala, ambil tas di security… sambal pesan go jek…. Aku liat di belakang aku ada beberapa yang terima kertas pink dan putih lagi. Aku masih gemetar waktu nunggu di luar tembok kedutaan. Beneran ngga ngira se gampang itu aku di mudahkan untuk dapat visa US. Semua pikiran negative aku beneran ngga ada yang kejadian.

Jadi benar yang orang bilang, dari 100% kekhawatiran kita hanya sekitar 1 % yang kejadian atau malah ngga terjadi sama sekali.

Bisa di bilang tiap orang random tergantung “hoki” atau rejeki masing2. Ada yang kek gue gampang, ngalir kek ngobrol.. ada yang sengit sampe akhirnya di tolak.

Intinya yang paling penting dari interview kalau aku liat adalah;
  1.  Ngga masalah kalau ngga bisa Bahasa inggris. Yang interview jago banget Bahasa indonesianya. Cum ague gara2 lebih dari 10 tahun kerja sama expat, kalo liat muka bule mulut langsung “auto translate” aja hahahha…. Jadi jangan khawatir.
  2.  JANGAN GROGI.
  3. Memiliki kerjaan apalagi perusahaan internasional yang di kenal sama orang Amerika itu  ngaruh banget sama nih visa, mereka mo liat lu balik ke Indonesia lagi apa kagak.
  4.  Konsisten lah dengan isian DS-160. Hapalkan apa yang di tulis kalo perlu. Makanya kalau bisa DS-160 isi sendiri jadi tau apa yang di tulis di sana. Jangan bilang di sana mo ke NYC ngga taunya interview jawab Hollywood. Rencana di DS-160 di tulis 10 hari di interview bilang 3 minggu. Pokoknya konsistensi itu penting… kalau memang jujur isiannya  ya…. gue rasa ngga perlu takut lah buat salah ngomong.
  5. JANGAN GROGI. Tarik nafas…. Relax….
  6.  Ngga mestilah punnya tabungan sampe 50juta ke atas. Dari duduk dan memperhatikan orang yang di interview dan proses interview gue… bisa menyimpulkan ngga usah yang aneh2 deh. Contoh kalau memang Karyawan, gaji bulanan 6 juta, tapi di saldo tabungan ada ratusan juta. Bisa2 di kira money laundering atau terlibat kegiatan kriminal. Atau kalau misalnya ngakunya backpacker tapi tabungan gede juga ngga masuk akal lah.. mereka ini udah tau kondisi Indonesia gimana. Kalau tabungan sedikit, atau kecil, sesuaikanlah isi DS-160. Tabungan di bawah 10 juta tapi niat jalan ke USA lebih dari 2 minggu… maunya jalan dari Ujung ke Ujung (west coast ke east coast), ya ngga masuk di akal lah.
  7. Pelajari dikit lah tentang amerika, jangan ngomong mau jalan keliling amerika dari LA/Hollywood, Vegas, trus mau nyambung ke New York, trus mau ke Chicago dll dalam 10 hari. Coba liat peta baik2…. Dari west coast ke east coast ini jaraknya jauuuhhhhh… bisa 5 jam FLIGHT sama kek dari Jakarta mau ke Bangkok. Kecuali memang sudah paham ya silahkan di mention di waktu interview atau di DS-160
  8. Dokumen pendukung silahkan di persiapkan, mana tau memang ngga beruntung dan dipertanyakan. Siapkan dan susun rapi jadi mudah di keluarkan jika di tanya (ngga perlu di sodorkan kalo ngga di tanya).

 Banyak zikir, berdoa, sebelum interview, mudah2an mood yang interview bagus. Udah interview doakan rezeki yang interview juga makin lancar sebab udah baeeek banget mau approve tuh visa.

Nah.... untuk yang belum, jangan keder duluan, kalo rezeki ngga kemana... kalo masih belum di approve di coba lagi. Ingat konsistensi sama jangan grogi!



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Visa turis Amerika/USA (B1-B2) -Yang terjadi terjadilah

Setelah sekian lama gagal move on sama visa Schengen (I had 4 of them dari tahun 2011!) akhirnya gue ngerasa ini saatnya step up my game dan apply untuk visa USA.

Akhir tahun 2016 seiring dengan president election di USA, banyak banget rumor negative terkait dengan salah satu calon presiden mereka yang sanking frontalnya menyatakan terang2an ngga bakalan memperbolehkan orang yang meragama islam untuk masuk ke USA dan akan mendirikan tembok di perbatasan Mexico dengan USA.

Keder dong ya….

Antara ya dengan tidak, maju mundur cantik… gue suatu hari…. Iseng browsing2 di group backpacker di facebook dan liat persentase yang keterima dan tolak… mau percaya atau ngga, cerita sukses lebih bayak daripada yang ngga.

Teteeuupp gue keder hahah…. Somewhat somehow… namanya ngurus visa itu ngga ada yang bikin jantung berdebar, keringat dingin, berasa mo interview kerja atau mau ujian UMPTN.

Aku dari dulu terbiasa ngurus surat2 traveling sendiri, lagian kalo pake travel agent ngga jaminan juga loh bisa di approve visa-nya---catet ya hahah... lebih convinient tapi, kalo udah biasa mandiri apalah salahnya n gurus sendiri, gregetnya beda loh.

Jadi semuanya aku awali dengan banyak membaca dari website dan blog lain. Hari itu memang dari malam sebelumnya aku banyak baca soal visa USA.

Hari yang sama baca2 info soal visa langsung dari website resmi di website ini. 

So… yang gue harus lakukan yang pertama adalah cari tau soal visa yang gue butuhin. Jadi kalau di baca2, visa yang pas buat gue adalah visa non immigrant. Jadi ngertiin dulu yah jenis visanya.

Visa non immigrant ini dibagi lagi jadi beberapa… heemm beda dari visa2 gue sebelumnya hahah… tetep klik dan baca terus… kualifikasinya.. hmm… ternyata kualifikasi yang pas buat gue di jenis visa non immigrant ini adalah: visa bisnis/wisatawan atau kodenya visa B-1/B-2.

Kualifikasi menurut website tersebut adalah:
Pemohon visa B-1/B-2 harus menunjukkan kepada petugas konsuler bahwa mereka memenuhi syarat untuk visa AS sesuai dengan Akta Imigrasi dan Kewarganegaraan AS (INA). Pasal 214 (b) dari INA menganggap bahwa setiap pemohon visa B-1/B-2 adalah orang yang berminat untuk imigran; pemohon visa harus mengatasi praduga hukum ini dengan menunjukkan:

  • Bahwa tujuan dari perjalanan mereka masuk ke AS adalah untuk kunjungan sementara, seperti bisnis, bersenang-senang, atau perawatan medis;
  • Bahwa mereka berencana untuk tinggal untuk jangka waktu tertentu yang terbatas;
  • Bukti kecukupan dana untuk menutupi biaya selama di AS; dan,
  • Bahwa mereka memiliki tempat tinggal di luar AS serta hubungan sosial atau ekonomi lainnya yang mengikat, yang akan menjamin mereka akan kembali pulang pada akhir masa kunjungan.

Ingat yaaa… ini berhubung gue ala2… jadi aku ngga punya tiket di tangan dan tidak ada jadwal pasti kapan mau berangkat.

Ok, gue udah tau kualifikasi visaya, trus ngapain lagi? Tradaaa.. gue harus mengisi formulir DS-160 online.

Ngisi Formulir DS-160 sambil merem melek

Jangan ikutin gue kali ya--- hahah urutan buatnya rada ngawur… sebab ini berawal dari iseng, dan ternyata bergulir ibarat roda di sorong dari atas bukit haisshh pengandaian gue… intinya, hari itu gue nekat atau lebih kepada bengong, tanpa di sadari masuk ke website ini 
 
Gue isi deh tuhh formulir…. Petunjuk general pengisian bisa diliat di sini 

Untuk lengkapnya gue bakalan kasih satu blog yang kasih screen capture dan cara pengisian yang lumayan detail di blognya punya mbak Hanna:  cuma agak di sayangkan, kalau gue baca di akhir--dia visanya ditolak…. Tapi tutorial ngisi ds-160nya boleh lah di jadikan acuan kok.

Aku anteng2 aja sebab di bilang di website itu, file bisa di simpan secara online selama 1 bulan. Jadi aku santai aja mengerjakan sebisanya dan sesuai mood—halaaahh…

Aku dari awal sudah print out 10 digit application ID. Jadi kalau kita mau tutup dan lanjutin isi formulir ini besok2 nanti tinggal isi di application id nanti kita ngga perlu ngulang dari awal lagi kok melalui menu “RETRIEVE AN APPLICATION” di halaman awal.

Sebenarnya manu utama dari formulir ini ada beberapa bagian:
  • Personal, Address, Phone, and Passport/Travel Document Information
  • Travel Information
  • U.S. Contact Information
  • Family Information
  • Work/Education/Training Information
  • Security and Background Information

Tiap bagian harus kita lewati untuk mengisi bagian berikutnya. Jangan lupa untuk save ya.

Untuk kontak di Amerika gue browsing aja hostel di kota yang kira2 gue pengen banget datangi. Gue liat alamatnya dan salin seluruhnya di formulir tersebut. Gue milih NYC dan hostel yang gue isi di formulir adalah hostel west Central Park. Secara hargannya murah dekat dengan stasiun kereta trus central park yang terkenal itu dan semuanya keknya within walking distance (gue pake cari dipeta segala buat mastiin).

Untuk tanggal keberangkatan ngga apa2 kalau belum ada tanggal pasti, aku Cuma isi tanggal seadanya selama 10 hari dari tanggal 1 Januari sampe tanggal 10 Januari 2017.
Ngisi nih formulir butuh serius tingkat tinggi. Sebenarnya ngga susah sih, tapi namanya udah keder duluan. Kita bisa kok ngga selesaikan ngisi formulir ini, tinggal di save aja.

Jangan lupa catat nomor aplikasinya ya—atau di print kek gue.

Tips untuk yang kerja, tulislah deskkripsi kerjaan mu sebaik2/sejelasnya. Dan di hapalin ye… ntar di wawancara jawaban beda pula. Mungkin gara2 visa turis jadi gue ngga di suruh masukin education atau training segala.

Dan… sudah selesai semua, system halaman langsung ke menu “upload foto” gue mentoknya di foto sebab gue belum buat foto. Sudahlah, file gue save dulu, besok lanjutin lagi lah.

Sesi Foto ala-ala

Secara gue sekarang d tugasin di ujuuunngg Indonesia pulau terpencil yang catet, boro2 mall, indomaret aja seluruh pulau Cuma ada satu, jangan tanya mall deh atau bioskop… tuh pulau dari Ujung ke Ujung pake mobil kecepatan slow bisa di tempuh Cuma 30 menit….. (kapan sih gue du tugasin di tengah kota??)

Gue dah agak pesimis aja sama urusan nih foto, secara untuk Schengen gue udah tau nih apa yang gue butuhin, visa US bagemanahh? Tapi gue masih coba positif ajalah, ingat waktu pertama Schengen gue juga buat fotonya di Jambi, asal ukurannya sama persentase foto sesuai seharusnya ngga masalah. Browsing sana sini gue dapat ukuran milimeternya sama ukuran pixel, background, proporsi foto  dll udah… besoknya gue ke tukang foto di pojokan jalan.

Foto ini banyaaak banget yang ngentengin. Ini salah satu faktor kamu di reject juga kalau foto ngga Menuhin syarat.

Syarat wajib yang ada di website kedutaan yang gue ikutin:
  • Bukan foto yang di scan secara digital, diubah dari bentuk aslinya, atau diedit-----kalo mau edit ala2 jangan keterlaluan juga lah… sebab namanya visa system biometric yang ngambil dari demografi wajah contoh ukuran antara alis ke atas rambut, Ujung mata, besar mata, bentuk bibir dan hidung… lhaaa kalo di edit pake kamera 360 yang  mblesek hidungnya jadi mancung plus mata lebih belok… jangan salahin kalo di reject yaaaa…..
  • Memperlihatkan seluruh wajah dan menghadap ke depan (jangan miring2 lah)
  • Berlatar belakang putih. Foto anda harus jelas, berwarna dan memperlihatkan warna kulit yang alami—ini niiiihh.. cewek yaaa.. pake edit warna kulit biar warnanya bening.. hadoohhh…
  • Dicetak diatas kertas mengkilap---tinggal bilang “glossy” aja kertasnya
  • Dibuat kurang dari 6 bulan terakhir (gue ngarep bisa pake foto Schengen setelah itung2 lebih dari 6 bulan.. kagak boleeeh)
  • Berukuran 2 inci x 2 inci (5 cm x 5 cm) dengan posisi wajah berada ditengah, berjarak antara 1 inci sampai 1 3/8 inci (25 mm sampai 35mm) dan jarak mata antara 1 1/8 inci dan 1 3/8 inci (28mm sampai 35mm) dari bagian bawah foto---ini yang paling penting di catat atau print!
  • Memperlihatkan bagian kepala pemohon visa, termasuk seluruh wajah dan rambut, dari ujung kepala sampai dengan ujung dagu, serta batas garis rambut  di kedua sisi wajah (ini yang gue maksub bagian dari demografi wajah sebab namanya juga biometric)
  • Tidak menggunakan kacamata hitam atau penutup wajah yang lain, kecuali penutup mata dikarenakan alasan medis.
  • Tidak menggunakan penutup wajah, baik karena alasan tradisional ataupun keagamaan atau cadar yang dapat mengurangi identifikasi (contoh : Burqa). Catatan: Pemohon visa tidak dilarang untuk menggunakan jilbab atau kerudung untuk foto visa, namun foto harus menunjukkan batas garis rambut. (Jilbabnya agak di naikin ya sampe batas ujung rambut, kupingnya di keluarin aja tapi rambut tetap tertutup semua ngga apa kok)
  • Tidak menggunakan topi militer,  topi penerbang atau seragam lainnya.
  • Hanya  terdiri dari foto pemohon visa saja. Tidak boleh foto secara berkelompok. Untuk foto anak kecil hanya memuat foto anak kecil tersebut.

Kalo mau liat contoh foto yang di terima sama ngga coba aja ke website resmi kedutaan di halaman ini di tunjukin contoh foto yang di terima atau ngga.

Si kokoh yang foto ngerenyit aja liat kertas yang gue kasih, gue ngga ada baju2 cetar ato make up apalah… namanya orang lapangan. Seadanya aja (gue beneran gak niat kedengarannya ya hahah) studio itu kecil dengan pencahayaan standard gue dah keder aja… pasti rada gelap dan berbayang… yupp hasilnya gelap ahahah tapi background keliatan radah putih lah/off white? terang gitu dan yang penting muka keliatan jelas.

Gue minta 5 lembar, trus di simpan soft file di flash disk hahah namanya kota kecil ya… kalau gue bawa sendiri ngga usah beli cd atau usb dia mau kasih.. tapi ya sudahlah gue beli usb baru dan tuh foto gue simpan soft filenya buat jaga2 kalau ternyata perlu di cetak ulang.

Balik kekantor masuk ke website DS-160 tadi gue upload foto dan ternyata di systemnya langsung approved ya sudah lah naseb baek awak… kalo Bahasa melayunya.

Di akhir formulir itu ada “sign the form” tadinya gue pikir butuh tanda tangan elektronik atau scan print segala—agak panik sebab aku udah pulang ke hotel. Ngga taunya Cuma kasih tanda conteng kalo kita acknowledge isi form adalah yang sebenarnya bla bla… kek gitu deh.

Ntar terakhir ada konfirmasi formulir. Naaahhh yang ini aku simpan soft file dan print 2 lembar dengan kualitas TERBAIK yang bisa printer lu print. Sebab ini barcode bahaya kalo kaga kebaca kedepannya di kedutaan barcode inilah yang di scan kalo mau masukin dokumen.

Ngga perlu pakai kertas foto segala. Yang penting kualitas terbaik, jangan pulak pake printer dot yang ala2. Printer jaman sekarang udah keren kok, tinggal settingan hasilnya aja kita buat THE BEST/PRO atau VIVID atau apalah settingan printer kita. Pokoknya tuh barcode lurus, rapih, ngga ada cela nya.

File juga gue kirim ke email gue sesuai dengan isian form, untuk jaga2 kalau2 nanti di butuhkan.

Ini file gue bungkus plastik dokumen, jangan kelipet2 tuh barcode. Panjang urusannya kalo rusak.

Membuat jadwal wawancara (hitungan tanggal baek dulu)

Selesai dapat konfrmasi formulir lanjutin ke pendaftaran wawancara. Kita harus mendaftar/membuat profile login di website resmi di sini

Isi aja semua pertanyaannya.

Setelah itu kita klik di “new application/schedule appointment”.

Kita bakalan butuh nomor konfirmasi dari pengisian formulir DS-I60 yang sudah selesai kita buat sebelumnya.

Setelah itu tingga isi aja semua pertanyaannya lagi. Kalau untuk pengiriman passport aku alamatkan ke agen RPX terdekat di RPX Casablanca Kuningan (di Jl. Satrio dekat Sampoerna Strategic).

Trus untuk pembayaran ada dua pilihan “cash payment” (rata2 orang pilih yang ini gue udah ubek2 website nih) dan yang satu lagi “electronic fund transfer”/EFT.

Nanti kita akan dapat nomor virtual account. Nomor inilah nanti yang akan kita transferkan. Untuk transfernya secara online bisa dari bank manapun. Instrusinya cukup jelas kok. Naaahhh berhubung keadaaan gue di pulau antah berantah ini kaga ada yang namanya bank CIMB jadi lah aku memilih transfer secara online!

Untuk transfer gue memilih sistem kliring. Awalnya binguuuung banget sebab ngga ada panduannya untuk menu transfer secara online. Berhubung waktu itu sudah jam 3 lewat yaaa jadinya akan di proses sehari sesudahnya. Untuk isian formulir kliring secara online:
Nama Penerima: BANA RE CGI FED INC VISACOL
Nomor Rekening yang dittuju: “Nomor Virtual Account anda' (jumlahnya 16 digit)
Bank Penerima: Bank of America, N.A. – Cabang Jakarta, Indonesia
Kode Bank: 0330301

Jumlah yang di stransferkan waktu itu sesuai dengan kurs yang berlaku untuk $160 yaitu sebanyak Rp 2.100.000,- dan kena transfer fee sebesar Rp 5.000,- ngga apalah yang penting convenient gue ngga perlu ke bank segala.

Jangan lupa print bukti transfer ini tadi ya. Ini akan di minta sewaktu wawancara di kedutaan.

Selesai bayar2an bukti transfer itu gue print dan scan dan  gue upload di halaman pembayaran tersebut. Jadwal wawancara baru bisa di klik setelah kita dapat konfirmasi kalau pembayaran kita telah di terima oleh kedutaan.

Untuk mengecek pembayaran tersebut kita masukkan nomor virtual account kita yang 16 digit ke “recipt number” trus klik continue.

Setelah itu kita bisa memilih jadwal interview sesuai dengan waktu yang kita inginkan. Setiap hari hanya ada 2 jadwal untuk yang jam 7 pagi dan yang jam 9 pagi. Biasanya yang suka penuh adalah jam 9 pagi.

Grup yang di jam 7 namanya grup A, ada tulisan JANGAN DATANG SEBELUM JAM 6.30 pagi untuk menyerahkan dokumen. Tapi juga di tulis jangan sampe telat lewat dari jam 8.30 pagi. Tapi padapelaksanaannya aku datang jam 6.30 pagi yang ada dapat antrian nomor 51 halaahh.....

Karena memegang teguh prinsip bangun pagi biar rejeki kagak di patok ayam, gue pilih lah yang jam 7 pagi. Secara gue kost di Kuningan, apalah artinya jarak kekedutaan yang etaknya di monas—cuss pake go jek kurang dari 20 menit kok.

Nanti akan ada “document appointment interview” ini juga di print dengan kualitas yang terbaik. Sebab ada barcode segala. Again, gue ngga pakai kertas foto yaaa…. Walopun gue banyak liat orang pake, tapi yang di tekankan adalah kualitas printnya (males gue yang lebay2 hahah) secara gue percaya dengan kualiitas printer gue (merek mas “bro”).

Jadi in BRIEF;

Dokumen yang wajib di persiapkan untuk proses wawancara adalah:

  • Passport yang masa berlakunya lebih dari 6 bulan. Gue juga siapin 1 passport lama gue
  • Passfoto sesuai dengan syarat 1 lembar
  • Print out terbaik dari lembar konfirmasi dokumen DS-160
  • Print out terbaik dari lembar document appointment confirmation untuk interview
  • Print out bukti transfer pembayaran proses visa dan EFT instruction yang ada nomor virtual accountnya


Inilah so far dokumen wajib yang kita butuhkan untuk di bawa waktu wawancara ke kedutaan Amerika.

Dokumen pendukung (yang bikin jiwa adem) dst

Untuk dokumen pendukung gue bawa passport lama yang ada visa schengen pertama gue, visa waktu ke Dubai dan lain2. Sebenarnya gue punya 2 passport lama yang sudah expired. 

Tapi yang ada di tangan gue Cuma ada satu ya sudahlah gue bawa aja lumayan untuk bahan pertimbangan.

Dokumen lain yang gue siapkan yang merupakan OPTIONAL alias terserah mau di bawa apa ngga:
  • Copy KTP
  • Copy Kartu Keluarga
  • Copy kartu kredit
  • Surat keterangan Kerja dari kantor (katanya surat sakti inihhh) yang isinya ada nomor passport kita, berapa lama travelingnya dan bahwa kantor menyetujui perjalanan/liburan kita tersebut (aku templatenya sama dengan pengajuan visa schengen tergantung dengan kantor masing20
  • Rekening koran selama 3 bulan terakhir. Disini banyak banget kerancuannya dari berbagai sumber mulai dari grup backpacker di FB sampai di blog2 online dan google…. tapi aku pikir mereka hanya mau liat bukti transfer gaji ke tabungan kita selama 3 bulan. Jujur berhubung cekak melarat mampus gue waktu itu (memang gak ada rencana apply sih sebab baru balik dari trip Eropa) saldo akhir kurang dari 2 juta sajahhh hahahha… mana ada yang namanya saldo puluhan atau ratusan juta kek kata orang. Yang masuk akal ajalah, kalo kita tulis di form DS-160 gaji Cuma 3 jutaan atau di bawah 6 jutaan contohnya tapi tabungan kita isinya puluhan juta kan gak masuk akal kaleee…. Ntar yang ada lu dikira money laundring lagi (cuci bersih uang2 sapahhh gituh)
  • Itinerary—ini aku buat sangat simple tanpa tanggal. Hanya nama kota yang aku pingin kunjungi dan tempat2 yang pengen aku datangi. Jadi aku tulis aja New York, trus list tempat wisata dan kota lain di sekitar yang masuk akal sesuai dengan isian DS-160 tadi… kalo di tulis niatnya 10 hari tapi kota yang mau di tuju ada 10 trus dari west coast ke east coast kan ngga masuk akal, buat yang masuk akal lah. Aku Cuma tulis 2 kota NYC sama DC itupun udah banyak banget yang aku mau liat dan di DS-160 aku jumlah hari berngkat max 10 hari (ya eyalahhh duit dari mane luhhh mau tulis 3 bulan plus 7 kota dari ujung ke ujung hahahha)

Udah itu aja yang aku persiapkan, disusun dalam folder rapi. Jujur rada ngeblank dan aku ngga mau ngarep2…. Takutnnya ngga dapettt sakit nyaaahh tuh di mariiih **unjuk buku tabungan** 



To be continued untuk pengalaman sesi wawancarannya ya….

#visausa
#visaUS

#pengurusanvisausa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aplikasi Android untuk backpacking Eropa 2016

Hari gini traveler di tuntut buat semakin smart, gak kalah sama gadget yang di pegang.

Tapi banyak kejadian gadget yang dimiliki sudah smart tapi orangnya belum smart-nahh lohh…

Untuk trip backpacking kami kali ini lamanya 18 hari, dan in total kita melalui 8 negara, serta 14 kota. Jumlah yang aduhai untuk 18 hari.

Selama di Eropa kita masing-masing pegang satu smart handphone. Kalau aku simpan satu HP untuk cadangan (backup incase anything worse happened) Nih hp aku simpan di dalam tas ransel (bukan daypack ya).


Aplikasi Peta yang satu ini memang asik, top rated dah! bisa di pake offline pulak!


Kita ngga bawa ipad, kamera digital, laptop dan tetek bengek lainnya. Simpel, makin banyak kamu bawa gadget makin besar kemungkinan kamu jadi target copet atau tindakan criminal lain.

Di kalangan orang Eropa sendiri pun sudah terlalu men cap kalau turis Asia selalu full of gadget. Saku ada 2 HP, leher kamera DSLR dalam tas daypack minimal ada ipad, atau laptop or kindle. Make it simple, hidup kamu ngga bakalan ribet jadi target copet di Eropa.

Cukup satu HP kamu yang paling mumpuni kameranya, cukup kok.


Ini aplikasi buat self guided walking tour, tinggal colokin headset dan jalan sendiri!

Dulu aja kamera aku cuma 5 megapiksel (2011 bokk) dann diisi dengan 2gb memory card, dan dulu hp aku ngga smart2 amat hahahha. Tapi tetep sama aja enjoynya kok. Intinya kita ngga mau di perbudak sama gadget.

Selama liburan juga, kita ngga beli simcard local. Alesan cukup simple, harga dan kita berpindah tiap kota rata2 per 3 hari. Ngga cost effective serta evisien (secara esensinya kita backpacking mau jalan2 nanti malah terpaku sama gadget). Selama kita sudah ada nomor contact penting dan pulsa cukup di nomor hp lokal (aku isi 200rb-catatan roaming tidak aktif dan selalu flight mode).

Jadi kita sepenuhnya tergantung free wifi sepanjang jalan di kota dan  atau wifi dari rumah host. Kita juga menghindari pakai peta print out. Biar gak keliatan turis bangeddd… selain itu kalau tangan kita sibuk pegang peta dan focus ke sana kita biasanya kurang aware sama bawaan kita terutama HP. Dan scam peta adalah salah satu top 10 scam di kota besar Eropa. Scam peta maksudnya ada orang2 yang pura2 bantu nunjukin peta sementara orang yang lain yang buka tas atau ngerogoh saku jaket kita.

Tapi kalau peta kita install di HP dan terus kita pegang, lebih sulit untuk copet ngambil HP (kasus jambret keknya jarang di kota besar Eropa—belum se extrim beberapa kota di Indonesia keknya).
Aplikasi Andalan untuk cari akomodasi murah!

Untuk aplikasi yang kita pakai selama persiapan dan selama perjalanan (kita HP OS nya Android) tinggal di cari aja di google playstore:

Transport:

  1. Meinfernbus (so far bus paling bagus dan banyak rutenya)
  2. Flixbus (satu perusahaan sama meinfernbus)
  3. OuiGo (bus untuk Perancis)
  4. GoEuro (untuk banding2 harga bus dan tiket kereta serta pesawat)
  5. Rome2Rio (ngga terlalu update cuma pakai sebagai referensi, kalau book kita langsung ke aplikasi bus atau kereta)
  6. Captain Train (banyak tiket kereta promo di sini kalau ketemu langsung book aja!)
  7. Fahr Planner (untuk tiket kereta, lumayan liat2 perbandingannya)
  8. SkyScanner (cari tiket pesawat)
  9. Kayak (cari tiket pesawat, lebih update dari skyscanner)
  10. Momondo (sama kek skyscanner, kadang ada promo atau error fare, tapi masih kurang cetar kek skyscanner yang bisa cari tiket sampai 6 bulan kedepan)
  11. Tiket.com (cari tiket local lah…)
  12. Peta MRT tiap kota (PENTING BANGET sebab tiap kota kita lebih prefer naik MRT-faktr kebiasaan kali ya)
Paling enak cari perbandingan harga via aplikasi ini, tapi kadang harganya ngga up to date, kalo ada promo ngga ke detect


Akomodasi:

  1. Hostelworld (paling gue suka dulu sebab gak ribet2 amat)
  2. Hostelbooker (kalo ngga dapat di hostelworld carinya ke sini)
  3. AirBnb (paling kepake sebab harganya murah buat di bagi 2 orang plus bisa pake dapur yang lengkap dan extra di kasih akses ke kulkas mereka hahah)
  4. CouchSurfing (aku udah jadi angggota sejak 2006, kepake banget jaman dulu, kali ini cuma buat host di Roma, agak mulai susah cari host sebab kebanyakan beralih ke AirBnb)
  5. Agoda (ngga banyak kepake sebab kita cari hostel bukan hotel, disini kebanyakan diluar range budget kita)
  6. Tripadvisor (kalo udah mepet banget liat2 di sini akomodasi tapiii masih muahal)

Peta/Self Guide:

  1. Rick Steves Audio Europe dari Rick Steves Europe Inc. IT’S A MUST. Kalau ada di antara kota yang mau kamu tuju ada di guidenya, download aja. Banyak detail2 yang di dapat dari audio guide ini. Jadi bukan sekedar liat2 aja tapi kita juga dapat ilmu dari audio guide ini. Paling kepake waktu kita ke daerah red district Amsterdam. Ternyata banyak hal2 kecil yang terlewatkan sama turis yang datang ke daerah tersebut. Semenjak itu yah kita pake terus sampe ke Paris. Lumayan dapat guide gratisan!
  2. Semua peta/”Travel Guide” dari “Ulmon GmbH” (tinggal download kota2 yang kita mau, ini yang paling detail dan bisa di operasikan tanpa data atau wifi, tinggal nyalain GPS). Ini aplikasi yang paling bagus untuk peta.
  3. Google maps-tinggal download offline mapnya sebelum berangkat keluar rumah. Offline map ini sebelnya kadang kalau kita masuk ke flight mode (buat saving batre lah ya) ngga mau di buka dengan note “need new update” haissshhh…. Tapi sangat useful kalau data offline nya ada dan kita nyasar ini adalah our last salvation, jadi bisa liat arah dari dan kemana. Tapi ya itu tadi asal peta terupdate ada di simpan offline (ketemu wifi sering2 update lah). Peta disimpan selama 28 hari dan automatically deleted later.
  4. MyCityHighlight (bisa download kota2 yang akan di tuju, lumayan lengkap dengan peta toilet gratisan atau berbayar—ini penting loh, hahah berasa banget kalo bayar toilet 2 Euro! Sama restoran atau tempat menarik)
  5. Zurich Travel guide dari Nexus, ini aku pake cuma di Zurich dan lumayan lengkap

Dan yang lain2:

  1. Tripcase-Ini berguna banget untuk menyimpan dan mengatur jadwal perjalanan (kode booking, waktu dll). Caranya juga gampang. Cuma tinggal sign up dan kita bisa langsung kirimkan tiket2 kita semua ke alamat email aplikasi. Nanti aplikasi yang di handphone akan langsung terupdate. Bisa di pakai dalam kondisi flightmode alias paket data di putus.
  2. Google drive-Aku pakai ini untuk simpan semua copy dokumen yang penting. Semua tiket, copy passport dan copy ktp, pasfoto dll aku simpan disini. Aku juga buat setting jadi google drive bisa di pake secara offline.
  3. Asus weather-nah ini bawaan HP gue, tapi useful banget. Kita yang ngga terbiasa cek cuaca pagi sebelum keluar rumah harus cek dulu kalau di Eropa sebab cuaca berubah2 dalam satu hari (contoh di pisa kita ngalamin dari 26c turun ke 14c dan kemudian kurang dari satu jam naik ke 25c lagi—biar gak saltum juga!)
  4. Currency Converter dari Designer Calculator, so far ini yang nyelamatin kalau gue mandek mikir konversi dan mau belanja. Ratingnya sih bagus, dan aplikasi ngga terlalu berat dan gak butuh data package alias bisa di pake offline
  5. Wifi Map-Password dari WifiMapLLC. Namanya juga fakir wifi, ini aplikasi bisa ngasih password untuk wifi. Cuma rada yebelin sebab required kita untuk punya akses data (lhaa makanya kita nyari gratisan wifi tohhh) jadi bisa di bilang 50-50 lah useful apa ngga
  6. Wifimaps:freewifi+passwords dari 2traces. Sama kek yang sebelumnya tapi jarang aku pake.


Oh ya untuk aplikasi kamera aku ngga pake yang macam2. Cuma bawaan HP aja kebetulan ada mode “HD” alias high definition jadi semua foto yang aku ambil aku set dalam mode “HD” jadi ngga pecah kalau di zoom.

Untuk foto malam, ya pake tangan sendiri jadiin tripod, ngga maksimal sih tapi lumayanlah. Aku bakalan mikir panjang kalo nenteng2 DSLR, sayang hahah kalo di rampok di jalan, atau rusak. 
Tapi….

Eropa, tetep jadi tempat paling bagus untuk kamera DSLR sih, tapi untuk turis kere kek kita yang modal backpack aja… kamera HP dengan gaya foto yang macem2 (mulai dari jongkok2, duduk bersila, naik ke atas pagar dll) demi mengcapture tempat atau orang.

Setelah nyampe di Indonesia dan seminggu kemudian, aku mau delete semua aplikasi yang telah berjasa dalam membuat backpacking aku efisien (waktu dan uang bokk!) sebelum di delete aku tulis dulu deh review di sini, biar kalau ada yang mau ke Eropa bisa liat2 dulu deh kalau mereka perlu nih aplikasi2. Biar HP sama orangnya sama2 smart!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Backpacker Girls
Add blog to our blog directory.